Banner

banner
News Update :
Tampilkan postingan dengan label Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Qur'an. Tampilkan semua postingan

Dialog Bersama Emilia Renita AZ Mengenai "Agama Syi'ah"

Penulis : Unknown on Selasa, 11 Maret 2014 | 07.33

Selasa, 11 Maret 2014

Untuk para ikhwah, silahkan membaca dialog bersama Emilia Renita Az isteri pendeta Syiah Indonesia Jalaluddin Rakhmat, Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI). mengenai "Agama Syiah" di website "Kajian Al Amiry" (Dialog sudah disusun dengan rapi).

1- Emilia Renita Az Dan Bukti Akan Kedangkalan Pemahamannya (Part 1)
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/02/emilia-renita-az-dan-bukti-akan.html

2- Emilia Renita Az Dan Bukti Akan Kedangkalan Pemahamannya Part II (Surat Al Isra Ayat 1 Mengenai Masjidil Aqsa Dan Masjidil Haram)
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/02/emilia-renita-az-dan-bukti-akan_22.html

3- Keutamaan Abu Bakr Dan Umar Bin Al Khottob Dalam Buku-Buku Syiah
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/02/keutamaan-abu-bakr-dan-umar-bin-al.html

4- Akhirnya Emilia Renita Az Menyatakan Bahwasanya Syiah Adalah Agama Kotor Dan Vulgar
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/02/akhirnya-emilia-renita-az-menyatakan.html

Kemudian para ikhwah juga bisa membaca kesesatan syiah lainnya dalam website "Kajian Al Amiry".

1- Kisah Nyata Khumaini Sang Pengagung Kemaluan Memut’ah Anak Berumur 4 Tahun
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/01/kisah-nyata-khumaini-sang-pengagung.html

2- Ketololan Ulama Syi'ah Yang Dipermalukan Oleh Syaikh Kholid Al Wushobi -hafidzahulah- Di Depan Kamera
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/01/ketololan-ulama-syiah-yang-dipermalukan.html

3- Aurat Lelaki Menurut Ajaran Syiah Yang Sesat
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/02/aurat-lelaki-menurut-ajaran-syiah-yang.html

4- Syiah Adalah Agama Seks (Agama Mut'ah + Pinjam Kemaluan)
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/07/syiah-adalah-agama-seks-agama-mutah.html

5- Iran Kota Syi'ah Yang Ternyata Disana Susah Untuk Melaksanakan Shalat Jum'at
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/05/iran-kota-syiah-yang-ternyata-disana.html

6- Syiah Melanggar Ajaran Yang Ada Dikitab Mereka Sendiri Mengenai 10 Muharram Atas Kematian Imam Husain
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/02/syiah-melanggar-ajaran-yang-ada-dikitab.html

7- Syiah Rafidhah Adalah Kafir Menurut Ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/01/syiah-rafidhah-adalah-kafir-menurut.html

8- Suratan Kecil Kisah Taubatnya 3 Wanita Syi'ah (SUBHANALLAH) -Semoga Emilia Renita bisa seperti mereka-
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/08/suratan-kecil-kisah-taubatnya-3-wanita.html

9- Gambar Kekejaman Bashar Ashad Di Suriyah
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/04/gambar-kekejaman-bashar-ashad-di-suriah.html

10- Imam Syi'ah Dan Wali Sufi Bersanding (Persamaan Syiah Dan Sufi)
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/08/imam-syiah-dan-wali-sufi-bersanding.html

11- Pertanyaan Buat Para Syiah Yang Menyatakan Para Imam Mengetahui Hal Ghaib
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/01/pertanyaan-buat-para-syiah-yang.html

12- Satu Per Satu Mempreteli Lidah Syi'ah !!
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/10/satu-per-satu-mempreteli-lidah-syiah.html

13- Satu Per Satu Mempreteli Lidah Syi'ah !! Pernyataan Keji Mereka Terhadap Para Sahabat Dan Salafy (Part 2)
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/10/satu-per-satu-mempreteli-lidah-syiah_24.html

14- Syi'ah Hanya Bisa Berteriak Tanpa Ilmu
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/06/syiah-berteriak-dengan-kebodohan.html

15- Inilah Alasan Mengapa Agama Syiah Gemar Mencela Para Sahabat
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/02/inilah-alasan-mengapa-agama-syiah-gemar.html

16- Kedustaan Dan Khurafat Syiah Diluar Akal Sehat
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/01/kedustaan-dan-khurafat-syiah-diluar.html

17- Selebihnya mengenai tuduhan wahhabi yang gemar dilontarkan oleh syiah kepada salafiyyin -tanpa hujjah dan burhan-

- Membersihkan Pakaian Salaf Dari Noda Tuduhan Wahabisme (Part 1)
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/11/membersihkan-pakaian-salaf-dari-tuduhan.html

- Membersihkan Pakaian Salaf Dari Noda Tuduhan Wahabisme (Part II)
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/11/membersihkan-pakaian-salaf-dari-noda_24.html

Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat buat ummat selebihnya -silahkan langsung dalam website "Kajian Al Amiry", kami selalu meminta kepada para ikhwah agar memohon kepada Allah akan kelancaran dakwah kita (ana dan antum semua). Innahu waliiyu dzaalik wal qaadir alaihi.

Sumber : https://www.facebook.com/abdurrahman.amiry

komentar | | Read More...

Waspada Terhadap Bid'ah

Penulis : Unknown on Selasa, 25 Februari 2014 | 21.56

Selasa, 25 Februari 2014

Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

BAB PERTAMA
Hukum Upacara Peringatan Maulid Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa Sallam

Segala puji bagi Allah, semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya, serta orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah. Telah berulang kali muncul pertanyaan tentang hukum upacara (ceremoni ) peringatan maulid Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam; mengadakan ibadah tertentu pada malam itu, mengucapkan salam atas beliau dan berbagai macam perbuatan lainnya.

Jawabnya : Harus dikatakan, bahwa tidak boleh mengadakan kumpul kumpul/pesta pesta pada malam kelahiran Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan juga malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan baru (bid’ah ) dalam agama, selain Rasulullah belum pernah mengerjakanya, begitu pula  Khulafaaurrasyidin, para sahabat lain dan para Tabi’in yang hidup pada kurun paling baik, mereka adalah kalangan orang orang yang lebih mengerti terhadap sunnah, lebih anyak mencintai Rasulullah dari pada generasi setelahnya, dan benar benar menjalankan syariatnya.

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Barang siapa mengada adakan (sesuatu hal baru) dalam urusan (agama) kami yang sebelumnya) tidak pernah ada, maka akan ditolak”.

Dalam hadits lain beliau bersabda :
“Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al qur’an) dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru (dalam agama), karena setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

Maka dalam dua hadits ini kita dapatkan suatu peringatan keras, yaitu agar kita senantiasa waspada, jangan sampai mengadakan perbuatan bid’ah apapun, begitu pula mengerjakannya. Firman Allah ta’aala dalam kitab-Nya :

 “Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ia, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras siksaan- Nya” (QS. Al Hasyr : 7)

“Karena itu hendaklah orang orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau adzab yang pedih” (QS. An Nur, 63).

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap (rahmat) Allah, dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab,21).

“Orang orang terdahulu lagi pertama kali (masuk Islam) diantara orang orang Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan itu, Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepadaNya, serta Ia sediakan bagi mereka syurga syurga yang disana mengalir beberapa sungai, mereka kekal didalamnya, itulah kemenangan yang besar” (QS, At taubah, 100).

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridlai Islam itu sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah, 3).

Dan masih banyak lagi ayat ayat yang menerangkan kesempurnaan Islam dan melarang melakukan bid’ah karena mengada-adakan sesuatu hal baru dalam agama, seperti peringatan peringatan ulang tahun, berarti menunjukkan bahwasanya Allah belum menyempurnakan agamaNya buat umat ini, berarti juga Rasulullah itu belum menyampaikan apa apa yang wajib dikerjakan umatnya, sehingga datang orang orang yang kemudian mengada adakan sesuatu hal baru yang tidak diperkenankan oleh Allah, dengan anggapan bahwa cara tersebut merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa cara tersebut terdapat bahaya yang besar, lantaran menentang Allah ta’aala, begitu pula (lantaran) menentang Rasulullah. Karena sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya, dan telah mencukupkan ni’mat-Nya untuk mereka.

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalahnya secara keseluruhan, tidaklah beliau meninggalkan suatu jalan menuju syurga, serta menjauhi diri dari neraka, kecuali telah diterangkan oleh beliau kepada seluruh ummatnya sejelas jelasnya. Sebagaimana telah disabdakan dalam haditsnya, dari Ibnu Umar rodhialloh ‘anhu bahwa beliau bersabda:

“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada mereka, dan memperingatkan mereka dari kejahatan ( hal hal tidak baik ) yang telah ditunjukkan kepada mereka” (HR. Muslim).

Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terbaik diantara Nabi Nabi lain, beliau merupakan penutup bagi mereka; seorang Nabi paling lengkap dalam menyampaikan da’wah dan nasehatnya diantara mereka itu semua.

Jika seandainya upacara peringatan maulid Nabi itu betul betul datang dari agama yang diridloi Allah, niscaya Rasulullah menerangkan kepada umatnya, atau beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak, dikerjakan oleh para sahabat. Maka jika semua itu belum pernah terjadi, jelaslah bahwa hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali, dan merupakan seuatu hal yang diada adakan (bid’ah), dimana Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya agar supaya dijauhi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dua hadits diatas, dan masih banyak hadits hadits lain yang senada dengan hadits tersebut, seperti sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum’atnya:

“Adapun sesudahnya, sesungguhnya sebaik baik perkataan ialah kitab Allah (Al Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan (dalam agama) ialah yang diada adakan (bid’ah), sedang tiap tiap bid’ah itu kesesatan” (HR. Muslim).

Masih banyak lagi ayat ayat Al Qur’an serta hadits hadits yang menjelaskan masalah ini, berdasarkan dalil dalil inilah para ulama bersepakat untuk mengingkari upacara peringatan maulid Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan memperingatkan agar waspada terhadapnya. Tetapi orang orang yang datang kemudian menyalahinya, yaitu dengan membolehkan hal itu semua selama di dalam acara itu tidak terdapat kemungkaran seperti berlebih lebihan dalam memuji Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, bercampurnya laki laki dan perempuan (yang bukan mahram), pemakaian alat alat musik dan lain sebagainya dari hal hal yang menyalahi syariat, mereka beranggapan bahwa ini semua termasuk bid’ah hasanah padahal kaidah syariat mengatakan bahwa segala sesutu yang diperselisihkan oleh manusia hendaknya dikembalikan kepada Al Qur’an dan sunnah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman :

“Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri (pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Al Hadits), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu  dan lebih baik akibatnya” (QS. An nisa’, 59).

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah (yang mempunyai sifat sifat demikian), itulah Tuhanku, Kepada -Nya- lah aku bertawakkal dan kepada-Nya- lah aku kembali”  (QS. Asy syuro, 10 ).

Ternyata setelah masalah ini (hukum upacara maulid Nabi) kita kembalikan kepada kitab Allah (Al Qur’an), kita dapatkan suatu perintah yang menganjurkan kita agar mengikuti apa apa yang dibawa oleh Rasulullah, menjauhi apa apa yang dilarang oleh beliau, dan (Al Qur’an) member penjelasan pula kepada kita bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’aala telah menyempurnakan agama umat ini.

Dengan demikian upacara peringatan maulid Nabi ini tidak sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka ia bukan dari ajaran agama yang telah disempurnakan oleh Allah subhaanahu wa ta’aala kepada kita, dan diperintahkan agar mengikuti sunnah Rasul, ternyata tidak terdapat keterangan bahwa beliau telah menjalankannya, (tidak) memerintahkannya, dan (tidak pula) dikerjakan oleh sahabat sahabatnya. Berarti jelaslah bahwasanya hal ini bukan dari agama, tetapi ia adalah merupakan suatu perbuatan yang diada adakan, perbuatan yang menyerupai hari hari besar ahli kitab, Yahudi dan Nasrani.

Hal ini jelas bagi mereka yang mau berfikir, berkemauan mendapatkan yang haq, dan mempunyai keobyektifan dalam membahas; bahwa upacara peringatan maulid Nabi bukan dari ajaran agama Islam, melainkan merupakan bid’ah bid’ah yang diada adakan, dimana Allah memerintahkan RasulNya agar meninggalkanya dan memperingatkan agar waspada terhadapnya, tak layak bagi orang yang berakal tertipu karena perbuatan perbuatan tersebut banyak dikerjakan oleh orang banyak diseluruh jagat raya, sebab kebenaran (Al Haq) tidak bisa dilihat dari banyaknya pelaku (yang mengerjakannya), tetapi diketahui atas dasar dalil dalil syara’. Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman tentang orang orang Yahudi dan Nasrani:
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata : sekali kali tak (seorangpun) akan masuk sorga, kecuali orang orang yang beragama Yahudi dan Nasrani. Demikian itu (hanya) angan angan mereka yang kosong belaka ; katakanlah : tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang orang yang benar” (QS. Al Baqarah, 111).
komentar | | Read More...

Waspada Terhadap Bid'ah

Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz 
BAB PERTAMA
HUKUM UPACARA PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SHALALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM

Segala puji bagi Allah, semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya, serta orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah. Telah berulang kali muncul pertanyaan tentang hukum upacara (ceremoni ) peringatan maulid Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam; mengadakan ibadah tertentu pada malam itu, mengucapkan salam atas beliau dan berbagai macam perbuatan lainnya.

Jawabnya : harus dikatakan, bahwa tidak boleh mengadakan kumpul kumpul / pesta pesta pada malam kelahiran Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan juga malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan baru (bid’ah ) dalam agama, selain Rasulullah belum pernah mengerjakanya, begitu pula  Khulafaaurrasyidin, para sahabat lain dan para Tabi’in yang hidup pada kurun paling baik, mereka adalah kalangan orang orang yang lebih mengerti terhadap sunnah, lebih anyak mencintai Rasulullah dari pada generasi setelahnya, dan benar benar menjalankan syariatnya.

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Barang siapa mengada adakan (sesuatu hal baru) dalam urusan (agama) kami yang sebelumnya ) tidak pernah ada, maka akan ditolak”.

Dalam hadits lain beliau bersabda :
“Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al qur’an) dan sunna Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru (dalam agama), karena setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

Maka dalam dua hadits ini kita dapatkan suatu peringatan keras, yaitu agar kita senantiasa waspada, jangan sampai mengadakan perbuatan bid’ah apapun, begitu pula mengerjakannya. Firman Allah ta’aala dalam kitab-Nya : 
 “Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ia, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras siksaan- Nya” (QS. Al Hasyr : 7)


“Karena itu hendaklah orang orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau adzab yang pedih” (QS. An Nur, 63).



“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap (rahmat ) Allah, dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab,21).



“Orang orang terdahulu lagi pertama kali (masuk Islam ) diantara orang orang Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan itu, Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepadaNya, serta Ia sediakan bagi mereka syurga syurga yang disana mengalir beberapa sungai, mereka kekal didalamnya, itulah kemenangan yang besar” ( QS, At taubah, 100 ).



“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridlai Islam itu sebagai agama bagimu” ( QS. Al Maidah, 3 ).



Dan masih banyak lagi ayat ayat yang menerangkan kesempurnaan Islam dan melarang melakukan bid’ah karena mengada-adakan sesuatu hal baru dalam agama, seperti peringatan peringatan ulang tahun, berarti menunjukkan bahwasanya Allah belum menyempurnakan agamaNya buat umat ini, berarti juga Rasulullah itu belum menyampaikan apa apa yang wajib dikerjakan umatnya, sehingga datang orang orang yang kemudian mengada adakan sesuatu hal baru yang tidak diperkenankan oleh Allah, dengan anggapan bahwa cara tersebut merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa cara tersebut terdapat bahaya yang besar, lantaran menentang Allah ta’aala, begitu pula ( lantaran ) menentang Rasulullah. Karena sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya, dan telah mencukupkan ni’mat-Nya untuk mereka.



Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalahnya secara keseluruhan, tidaklah beliau meninggalkan suatu jalan menuju syurga, serta menjauhi diri dari neraka, kecuali telah diterangkan oleh beliau kepada seluruh ummatnya sejelas jelasnya. Sebagaimana telah disabdakan dalam haditsnya, dari Ibnu Umar rodhialloh ‘anhu bahwa beliau bersabda:



“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada mereka, dan memperingatkan mereka dari kejahatan ( hal hal tidak baik ) yang telah ditunjukkan kepada mereka” (HR. Muslim).



Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terbaik diantara Nabi Nabi lain, beliau merupakan penutup bagi mereka ; seorang Nabi paling lengkap dalam menyampaikan da’wah dan nasehatnya diantara mereka itu semua.



Jika seandainya upacara peringatan maulid Nabi itu betul betul datang dari agama yang diridloi Allah, niscaya Rasulullah menerangkan kepada umatnya, atau beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak, dikerjakan oleh para sahabat. Maka jika semua itu belum pernah terjadi, jelaslah bahwa hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali, dan merupakan seuatu hal yang diada adakan ( bid’ah ), dimana Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya agar supaya dijauhi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dua hadits diatas, dan masih banyak hadits hadits lain yang senada dengan hadits tersebut, seperti sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum’atnya:



“Adapun sesudahnya, sesungguhnya sebaik baik perkataan ialah kitab Allah (Al Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan ( dalam agama) ialah yang diada adakan (bid’ah), sedang tiap tiap bid’ah itu kesesatan” (HR. Muslim).



Masih banyak lagi ayat ayat Al Qur’an serta hadits hadits yang menjelaskan masalah ini, berdasarkan dalil dalil inilah para ulama bersepakat untuk mengingkari upacara peringatan maulid Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan memperingatkan agar waspada terhadapnya. Tetapi orang orang yang datang kemudian menyalahinya, yaitu dengan membolehkan hal itu semua selama di dalam acara itu tidak terdapat kemungkaran seperti berlebih lebihan dalam memuji Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, bercampurnya laki laki dan perempuan (yang bukan mahram), pemakaian alat alat musik dan lain sebagainya dari hal hal yang menyalahi syariat, mereka beranggapan bahwa ini semua termasuk bid’ah hasanah padahal kaidah syariat mengatakan bahwa segala sesutu yang diperselisihkan oleh manusia hendaknya dikembalikan kepada Al Qur’an dan sunnah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman :



“Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri (pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( Al Qur’an ) dan Rasul ( Al Hadits), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama ( bagimu ) dan lebih baik akibatnya” ( QS. An nisa’, 59 ).



“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah ) kepada Allah ( yang mempunyai sifat sifat demikian ), itulah Tuhanku, Kepada -Nya- lah aku bertawakkal dan kepada-Nya- lah aku kembali”  (QS. Asy syuro, 10 ).



Ternyata setelah masalah ini (hukum upacara maulid Nabi) kita kembalikan kepada kitab Allah (Al Qur’an), kita dapatkan suatu perintah yang menganjurkan kita agar mengikuti apa apa yang dibawa oleh Rasulullah, menjauhi apa apa yang dilarang oleh beliau, dan (Al Qur’an) member penjelasan pula kepada kita bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’aala telah menyempurnakan agama umat ini.



Dengan demikian upacara peringatan maulid Nabi ini tidak sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka ia bukan dari ajaran agama yang telah disempurnakan oleh Allah subhaanahu wa ta’aala kepada kita, dan diperintahkan agar mengikuti sunnah Rasul, ternyata tidak terdapat keterangan bahwa beliau telah menjalankannya, (tidak) memerintahkannya, dan (tidak pula) dikerjakan oleh sahabat sahabatnya. Berarti jelaslah bahwasanya hal ini bukan dari agama, tetapi ia adalah merupakan suatu perbuatan yang diada adakan, perbuatan yang menyerupai hari hari besar ahli kitab, Yahudi dan Nasrani.



Hal ini jelas bagi mereka yang mau berfikir, berkemauan mendapatkan yang haq, dan mempunyai keobyektifan dalam membahas; bahwa upacara peringatan maulid Nabi bukan dari ajaran agama Islam, melainkan merupakan bid’ah bid’ah yang diada adakan, dimana Allah memerintahkan RasulNya agar meninggalkanya dan memperingatkan agar waspada terhadapnya, tak layak bagi orang yang berakal tertipu karena perbuatan perbuatan tersebut banyak dikerjakan oleh orang banyak diseluruh jagat raya, sebab kebenaran (Al Haq) tidak bisa dilihat dari banyaknya pelaku (yang mengerjakannya), tetapi diketahui atas dasar dalil dalil syara’. Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman tentang orang orang Yahudi dan Nasrani:



“Dan mereka ( Yahudi dan Nasrani ) berkata : sekali kali tak (seorangpun ) akan masuk sorga, kecuali orang orang yang beragama Yahudi dan Nasrani. Demikian itu (hanya) angan angan mereka yang kosong belaka ; katakanlah : tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang orang yang benar” ( QS. Al Baqarah, 111 ).





 







komentar | | Read More...

Meredam Kemungkaran (Jalan Menuju Kebahagiaan) *

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan ‘Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat itu.” Qs. Al Maaidah: 78-79)

Makna Ayat Secara Umum
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas :
“Orang-orang kafir dari Bani Israil dilaknat dan dijauhkan dari rahmat Allah dengan persaksian dua nabi yaitu Nabi Dawud dan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Sungguh hujjah dan peringatan telah ditegakkan atas mereka tetapi mereka tetap mengingkarinya bahkan membangkan perintah Allah. Maka sebagai balasan bagi mereka, Allah mencampakan pada diri mereka kekufuran dan laknat disebabkan kemaksiatan dan kedzoliman, sehingga mereka jauh dari rahmat Allah. Ketahuilah sesungguhnya dosa dan kedzoliman itu ada balasannya.

Diantara kemaksiatan mereka yang mengundang musibah dan ancaman, mereka mengerjakan kemungkaran dan tidak melarang kemungkaran, termasuk juga mendiamkan kemungkaran padahal mampu melarangnya. Hal tersebut menunjukan peremehan perintah Allah, bahkan mereka anggap kemaksiatan itu hal yang sepele…

Sunguh sikap mendiamkan kemungkaran padahal mampu membendungnya mengakibatkan datangnya siksa Allah, kenapa? Karena banyak hal, di antaranya perbuatann tersebut mengandung kerusakan yang besar dan pelakunya telah berbuat maksiat walaupun tidak berbuat kemaksiatan secara terang-terangan. Kita wajib meninggalkan kemaksiatan, maka wajib pula mengingkari kemaksiatan. Faktor lainnya, perbuatan tersebut termasuk meremehkan maksiat, sedikit atau banyak, membuat orang suka mengerjakan kemaksiatan dan kefasikan. Apabila kemaksiatan tidak dicegah maka kehidupan akan menjadi buruk dan besar musibahnya, baik dari segi agama maupun dunia. Begitu pula kegundahan dan kekacauan akan menimpa mereka. Setelah itu orang-orang baik akan sirna dan lemah terhadap kerancuan orang-orang jelek sampai masa yang tidak mereka sangka, juga ilmu akan lenyap dan menjamurlah kebodohan.” [tafsir al-Karimur Rohman 1/972]

Sumber: Majalah Al Furqon, Edisi 05 th. ke-10 1431/2010
komentar | | Read More...

Rodja TV

Radio Sunnah

 
Blog Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2014. Abu Fakhiroh . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger