Banner

banner
News Update :
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Wala' dan Bara' Dalam Islam

Penulis : Unknown on Rabu, 02 April 2014 | 14.57

Rabu, 02 April 2014


Sesungguhnya mencintai wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh Allah merupakan kewajiban seorang muslim dan termasuk diantara pokok-pokok aqidah Islam, yaitu bersikap loyal kepada ahli tauhid dan memusuhi ahli syirik. Hal ini termasuk agama Nabi Ibrahim saw dan orang-orang yang bersamanya sebagaimana firman Allah:
"Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari pada kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)-mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja, kecuali perkataan Ibrohim kepada Bapaknya: Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Alah. (Ibrohim berkata): Ya Robb kami hanya kepada engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali." (Qs. al-Mumtanahan: 4)

Allah mengharamkan bagi orang mukmin untuk bersikap loyal kepada orang-orang kafir sekalipun mereka adalah kerabat dekatnya. Allah berfirman: 
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu megambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah menjadi sebagian pemimpin-pemimpin yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang dzolim." (Qs. al-Maidah : 51)

Disamping Allah mengharamkan bersikap loyal kepada orang-orang kafir, para musuh aqidah Islamiyyah, Allah juga mewajibkan kepada kita untuk bersikap loyal dan cinta kepada orang-orang mukmin. Allah berfirman: "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara." (Qs. al-Hujurot: 10)

Klasifikasi Manusia dalam Wala' dan Bara'

Dalam masalah wala' dan bara' ini, manusia terbagi menjadi tiga macam;

1. Orang yang dicintai secara murni tanpa ada permusuhan sedikit pun.
Mereka adalah orang yang beriman dari kalangan Nabi Sholalllahu'alaihi wa sallam, as-Siddiqin (orang-orang yang jujur) dan as-Sholihin (orang-orang yang shalih).
Orang yang terdepan adalah Rasulullah saw., maka wajib mencintai beliau mel, oebihi kecintaan kita pada diri kita,, anak, orang tua dan seluruh manusia. Kemudian para istri beliau, ibunda dari sekalian orang yang beriman, ahlul bait beliau yang baik-baik, serta para sahabat beliau yang mulia, khususnya para Kholifah ar-Rosyidin yang empat beserta sepuluh orang yang dijamin masuk surga, para Muhajirin dan Anshor, para tentara badar dan orang-orang yang melakukan baii'at ar-Ridwan. Kemudian para tabi'in dan generasi-generasi yang mulia, para salaf (pendahulu) ummat ini serta imam mereka, seperti imam yang empat. Allah swt. berfirman: 
"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo'a: Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engaku Maha Penyantun lagi Maha penyayang." (Qs.al-Hasyr: 10)

TidaK ada orang yang memiliki iman di dalam hatinya lantas akan membenci kepada para sahabat dan pendahulu umat ini. Orang yang membenci mereka hanyalah orang yang menyimpang, para munafik dan para musuh-musuh Islam seperti Syi'ah dan Khowarij. Kita mohon ampunan kepada Allah ta'ala.

2. Orang  yang dibenci dan  dimusuhi secara murni tanpa ada rasa cinta dan loyal sedikitpun.
Mereka adalah orang kafir yang murni dari kalangan kaum musyrikin, munafiqin dan orang yang murtad dan yang ingkar dengan berbagai macam jenis mereka. Sebagaimana firman Allah swt:
"Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman  kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka." (Qs al-Mujadalah: 22)

3. Orang yang dicintai dari satu sisi dan dibenci dari sisi yang lain
Orang yang seperti ini terkumpul padanya kecintaan dan kebencian, mereka adalah para pelaku maksiat dari kaum muslimin. Mereka dicintai karena pada mereka terdapat keimanan dan dibenci karena maksiat yang mereka lakukan dengan catatan bahwa dosa tersebut bukanlah kesyirikan dan kekufuran.

Cinta kepada mereka memiliki konsekuensi menasihati dan mengingkari atas kemaksiatan yang mereka lakukan. Kita tidak boleh berdiam diri atas maksiat yang mereka lakukan, akan tetapi perlu dicegah dari kemunkaran tersebut dan diarahkan kepada kebajikan. Lalu mereka pun dilarang dari berbuat kemungkaran dan juga ditegakan sanksi-sanksi kepada mereka berupa hukuman-hukuman dengan harapan agar mereka berhenti dari maksiat dan bertaubat dari dosa yang pernah mereka lakukan.

Karena kemungkaran yang dilakukannya, mereka tidak dibenci dengan kebencian yang murni dan berlepas diri dari mereka sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang khawarij tentang pelaku dosa besar, akan tetapi juga tidak dicintai dan loyal kepada mereka dengan sepenuhnya, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Murji'ah. Yang perlu dilakukan kepada mereka adalah memberika keadilan kepada mereka sebagaimana yang telah kita jelaskan, inilah mazhab ahlus sunnah wal jama'ah.

Sumber: Majalah al-Furqon, Edisi 4 Th. ke-9 1430/2009
komentar | | Read More...

Renungan Sebelum Mencoblos

Penulis : Unknown on Selasa, 25 Maret 2014 | 18.58

Selasa, 25 Maret 2014

  1. Bukanlah yang terbaik menjelaskan bolehnya nyoblos dalam pemilu (karena bolehnya nyoblos telah difatwakan oleh banyak ulama besar), akan tetapi yang lebih baik adalah penjelasan manakah pilihan partai atau caleg yang terbaik. Ini butuh perjuangan dan kerja keras, serta pandangan yang tajam dari para pakar. Karena inti dari fatwa para ulama adalah ارتكاب أخف الضررين "Menempuh yang mudorotnya terkecil" bukan bebas memilih..., maka butuh perjuangan untuk menentukan mana yang mudorotnya terkecil. 
  2. Jika hak milih digunakan untuk nyoblos partai atau caleg yang kurang baik, maka malah akan merugikan islam dan bangsa... Memaksakan orang awam yang tdk bisa memilah milih untuk menyoblos adalah memaksa dia untuk beramal tanpa ilmu dan membabi buta...
  3. Mengajari orang-orang awam untuk menilai juga merupakan pembebanan mereka dengan perkara yang berat, karena bahan penilaian mereka adalah tv, koran, dan internet. Sementara media-media informasi فيه ما فيه. Hal ini juga mengaharuskan mereka untuk menyita waktu yang banyak dalam melaksanakan penelitian tersebut, terlebih lagi jumlah partai yang hendak dipilih banyak.  Memang perkaranya lebih ringan dan lebih mudah tatkala memilih person daripada partai yang isinya heterogen.
  4. Lebih sulit lagi kenyataan yang telah terjadi yaitu munculnya "tokoh yang baik" dari partai yang dianggap tidak baik, demikian juga sebaliknya
  5. Suatu partai yang mengharamkan golput sementara "sentimen" jika partainya tidak dipilih sama saja dengan menyatakan "wajib hukumnya untuk memilih partaiku, jika tdk maka berdosa"!!
  6. Kita tetap berharap partai yang islami atau yang terwarnai islam, bukan partai yang terbuka dan bertekad untuk tdk menegekan syari'at. Apakah jika partai terbuka tersebut menang maka "syi'ah" akan ditolaknya? Ataukah dijadikan teman sebagaimana ada calegnya yang syiah dan ada juga yang nonmuslim?
  7. Konsekuensi dari "keterbukaan" maka semuanya bisa jadi teman dan tidak boleh memusuhi siapapun!!, wallahu a'lam
  8. Jangan lupa untuk terus beribadah dan berdoa serta meningkatkan takwa dan tauhid masing masing, karena apapun kondisi yang terjadi ketakwaanlah yang menyelamatkan kita dan negeri ini.
Intinya yang dibutuhkan sekarang adalah mencari partai atau caleg yang terbaik sebagai bentuk pengamalan fatwa para ulama, karena jika tdk bisa ditentukan mana yang terbaik maka pada hakekatnya fatwa para ulama tersebut tdk bisa diterapkan !!

Setelah itu berusaha mensosialisasikannya...

dan sungguh hal ini membutuhkan riset khusus...

Jika saudara anda akhirnya memilih "diam dan tidak ikut-ikutan" maka janganlah cela dia, jika anda mencelanya maka berilah solusi partai terbaik jaminan anda... Jika anda tdk bisa menjamin maka jangan paksa saudara anda untuk melakukan hal yang meragukannya..

Demikian juga sebaliknya, jika saudara anda bersikeras untuk mencoblos -berdasarkan riset dan penilitian yang bisa ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah- maka hargailah ijtihad dan perjuangannya
Semoga Allah memberikan pimpinan yang terbaik bagi negeri kita


Ustadz Firanda Andirja 
Sumber: muslimah.or.id/

komentar | | Read More...

Dialog Bersama Emilia Renita AZ Mengenai "Agama Syi'ah"

Penulis : Unknown on Selasa, 11 Maret 2014 | 07.33

Selasa, 11 Maret 2014

Untuk para ikhwah, silahkan membaca dialog bersama Emilia Renita Az isteri pendeta Syiah Indonesia Jalaluddin Rakhmat, Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI). mengenai "Agama Syiah" di website "Kajian Al Amiry" (Dialog sudah disusun dengan rapi).

1- Emilia Renita Az Dan Bukti Akan Kedangkalan Pemahamannya (Part 1)
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/02/emilia-renita-az-dan-bukti-akan.html

2- Emilia Renita Az Dan Bukti Akan Kedangkalan Pemahamannya Part II (Surat Al Isra Ayat 1 Mengenai Masjidil Aqsa Dan Masjidil Haram)
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/02/emilia-renita-az-dan-bukti-akan_22.html

3- Keutamaan Abu Bakr Dan Umar Bin Al Khottob Dalam Buku-Buku Syiah
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/02/keutamaan-abu-bakr-dan-umar-bin-al.html

4- Akhirnya Emilia Renita Az Menyatakan Bahwasanya Syiah Adalah Agama Kotor Dan Vulgar
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/02/akhirnya-emilia-renita-az-menyatakan.html

Kemudian para ikhwah juga bisa membaca kesesatan syiah lainnya dalam website "Kajian Al Amiry".

1- Kisah Nyata Khumaini Sang Pengagung Kemaluan Memut’ah Anak Berumur 4 Tahun
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/01/kisah-nyata-khumaini-sang-pengagung.html

2- Ketololan Ulama Syi'ah Yang Dipermalukan Oleh Syaikh Kholid Al Wushobi -hafidzahulah- Di Depan Kamera
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/01/ketololan-ulama-syiah-yang-dipermalukan.html

3- Aurat Lelaki Menurut Ajaran Syiah Yang Sesat
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/02/aurat-lelaki-menurut-ajaran-syiah-yang.html

4- Syiah Adalah Agama Seks (Agama Mut'ah + Pinjam Kemaluan)
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/07/syiah-adalah-agama-seks-agama-mutah.html

5- Iran Kota Syi'ah Yang Ternyata Disana Susah Untuk Melaksanakan Shalat Jum'at
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/05/iran-kota-syiah-yang-ternyata-disana.html

6- Syiah Melanggar Ajaran Yang Ada Dikitab Mereka Sendiri Mengenai 10 Muharram Atas Kematian Imam Husain
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/02/syiah-melanggar-ajaran-yang-ada-dikitab.html

7- Syiah Rafidhah Adalah Kafir Menurut Ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/01/syiah-rafidhah-adalah-kafir-menurut.html

8- Suratan Kecil Kisah Taubatnya 3 Wanita Syi'ah (SUBHANALLAH) -Semoga Emilia Renita bisa seperti mereka-
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/08/suratan-kecil-kisah-taubatnya-3-wanita.html

9- Gambar Kekejaman Bashar Ashad Di Suriyah
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/04/gambar-kekejaman-bashar-ashad-di-suriah.html

10- Imam Syi'ah Dan Wali Sufi Bersanding (Persamaan Syiah Dan Sufi)
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/08/imam-syiah-dan-wali-sufi-bersanding.html

11- Pertanyaan Buat Para Syiah Yang Menyatakan Para Imam Mengetahui Hal Ghaib
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/01/pertanyaan-buat-para-syiah-yang.html

12- Satu Per Satu Mempreteli Lidah Syi'ah !!
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/10/satu-per-satu-mempreteli-lidah-syiah.html

13- Satu Per Satu Mempreteli Lidah Syi'ah !! Pernyataan Keji Mereka Terhadap Para Sahabat Dan Salafy (Part 2)
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/10/satu-per-satu-mempreteli-lidah-syiah_24.html

14- Syi'ah Hanya Bisa Berteriak Tanpa Ilmu
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/06/syiah-berteriak-dengan-kebodohan.html

15- Inilah Alasan Mengapa Agama Syiah Gemar Mencela Para Sahabat
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/02/inilah-alasan-mengapa-agama-syiah-gemar.html

16- Kedustaan Dan Khurafat Syiah Diluar Akal Sehat
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2014/01/kedustaan-dan-khurafat-syiah-diluar.html

17- Selebihnya mengenai tuduhan wahhabi yang gemar dilontarkan oleh syiah kepada salafiyyin -tanpa hujjah dan burhan-

- Membersihkan Pakaian Salaf Dari Noda Tuduhan Wahabisme (Part 1)
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/11/membersihkan-pakaian-salaf-dari-tuduhan.html

- Membersihkan Pakaian Salaf Dari Noda Tuduhan Wahabisme (Part II)
Link: http://al-amiry.blogspot.com/2013/11/membersihkan-pakaian-salaf-dari-noda_24.html

Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat buat ummat selebihnya -silahkan langsung dalam website "Kajian Al Amiry", kami selalu meminta kepada para ikhwah agar memohon kepada Allah akan kelancaran dakwah kita (ana dan antum semua). Innahu waliiyu dzaalik wal qaadir alaihi.

Sumber : https://www.facebook.com/abdurrahman.amiry

komentar | | Read More...

Waspada Terhadap Bid'ah

Penulis : Unknown on Selasa, 25 Februari 2014 | 21.56

Selasa, 25 Februari 2014

Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

BAB PERTAMA
Hukum Upacara Peringatan Maulid Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa Sallam

Segala puji bagi Allah, semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya, serta orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah. Telah berulang kali muncul pertanyaan tentang hukum upacara (ceremoni ) peringatan maulid Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam; mengadakan ibadah tertentu pada malam itu, mengucapkan salam atas beliau dan berbagai macam perbuatan lainnya.

Jawabnya : Harus dikatakan, bahwa tidak boleh mengadakan kumpul kumpul/pesta pesta pada malam kelahiran Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan juga malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan baru (bid’ah ) dalam agama, selain Rasulullah belum pernah mengerjakanya, begitu pula  Khulafaaurrasyidin, para sahabat lain dan para Tabi’in yang hidup pada kurun paling baik, mereka adalah kalangan orang orang yang lebih mengerti terhadap sunnah, lebih anyak mencintai Rasulullah dari pada generasi setelahnya, dan benar benar menjalankan syariatnya.

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Barang siapa mengada adakan (sesuatu hal baru) dalam urusan (agama) kami yang sebelumnya) tidak pernah ada, maka akan ditolak”.

Dalam hadits lain beliau bersabda :
“Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al qur’an) dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru (dalam agama), karena setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

Maka dalam dua hadits ini kita dapatkan suatu peringatan keras, yaitu agar kita senantiasa waspada, jangan sampai mengadakan perbuatan bid’ah apapun, begitu pula mengerjakannya. Firman Allah ta’aala dalam kitab-Nya :

 “Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ia, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras siksaan- Nya” (QS. Al Hasyr : 7)

“Karena itu hendaklah orang orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau adzab yang pedih” (QS. An Nur, 63).

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap (rahmat) Allah, dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab,21).

“Orang orang terdahulu lagi pertama kali (masuk Islam) diantara orang orang Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan itu, Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepadaNya, serta Ia sediakan bagi mereka syurga syurga yang disana mengalir beberapa sungai, mereka kekal didalamnya, itulah kemenangan yang besar” (QS, At taubah, 100).

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridlai Islam itu sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah, 3).

Dan masih banyak lagi ayat ayat yang menerangkan kesempurnaan Islam dan melarang melakukan bid’ah karena mengada-adakan sesuatu hal baru dalam agama, seperti peringatan peringatan ulang tahun, berarti menunjukkan bahwasanya Allah belum menyempurnakan agamaNya buat umat ini, berarti juga Rasulullah itu belum menyampaikan apa apa yang wajib dikerjakan umatnya, sehingga datang orang orang yang kemudian mengada adakan sesuatu hal baru yang tidak diperkenankan oleh Allah, dengan anggapan bahwa cara tersebut merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa cara tersebut terdapat bahaya yang besar, lantaran menentang Allah ta’aala, begitu pula (lantaran) menentang Rasulullah. Karena sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya, dan telah mencukupkan ni’mat-Nya untuk mereka.

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalahnya secara keseluruhan, tidaklah beliau meninggalkan suatu jalan menuju syurga, serta menjauhi diri dari neraka, kecuali telah diterangkan oleh beliau kepada seluruh ummatnya sejelas jelasnya. Sebagaimana telah disabdakan dalam haditsnya, dari Ibnu Umar rodhialloh ‘anhu bahwa beliau bersabda:

“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada mereka, dan memperingatkan mereka dari kejahatan ( hal hal tidak baik ) yang telah ditunjukkan kepada mereka” (HR. Muslim).

Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terbaik diantara Nabi Nabi lain, beliau merupakan penutup bagi mereka; seorang Nabi paling lengkap dalam menyampaikan da’wah dan nasehatnya diantara mereka itu semua.

Jika seandainya upacara peringatan maulid Nabi itu betul betul datang dari agama yang diridloi Allah, niscaya Rasulullah menerangkan kepada umatnya, atau beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak, dikerjakan oleh para sahabat. Maka jika semua itu belum pernah terjadi, jelaslah bahwa hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali, dan merupakan seuatu hal yang diada adakan (bid’ah), dimana Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya agar supaya dijauhi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dua hadits diatas, dan masih banyak hadits hadits lain yang senada dengan hadits tersebut, seperti sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum’atnya:

“Adapun sesudahnya, sesungguhnya sebaik baik perkataan ialah kitab Allah (Al Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan (dalam agama) ialah yang diada adakan (bid’ah), sedang tiap tiap bid’ah itu kesesatan” (HR. Muslim).

Masih banyak lagi ayat ayat Al Qur’an serta hadits hadits yang menjelaskan masalah ini, berdasarkan dalil dalil inilah para ulama bersepakat untuk mengingkari upacara peringatan maulid Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan memperingatkan agar waspada terhadapnya. Tetapi orang orang yang datang kemudian menyalahinya, yaitu dengan membolehkan hal itu semua selama di dalam acara itu tidak terdapat kemungkaran seperti berlebih lebihan dalam memuji Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, bercampurnya laki laki dan perempuan (yang bukan mahram), pemakaian alat alat musik dan lain sebagainya dari hal hal yang menyalahi syariat, mereka beranggapan bahwa ini semua termasuk bid’ah hasanah padahal kaidah syariat mengatakan bahwa segala sesutu yang diperselisihkan oleh manusia hendaknya dikembalikan kepada Al Qur’an dan sunnah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman :

“Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri (pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Al Hadits), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu  dan lebih baik akibatnya” (QS. An nisa’, 59).

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah (yang mempunyai sifat sifat demikian), itulah Tuhanku, Kepada -Nya- lah aku bertawakkal dan kepada-Nya- lah aku kembali”  (QS. Asy syuro, 10 ).

Ternyata setelah masalah ini (hukum upacara maulid Nabi) kita kembalikan kepada kitab Allah (Al Qur’an), kita dapatkan suatu perintah yang menganjurkan kita agar mengikuti apa apa yang dibawa oleh Rasulullah, menjauhi apa apa yang dilarang oleh beliau, dan (Al Qur’an) member penjelasan pula kepada kita bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’aala telah menyempurnakan agama umat ini.

Dengan demikian upacara peringatan maulid Nabi ini tidak sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka ia bukan dari ajaran agama yang telah disempurnakan oleh Allah subhaanahu wa ta’aala kepada kita, dan diperintahkan agar mengikuti sunnah Rasul, ternyata tidak terdapat keterangan bahwa beliau telah menjalankannya, (tidak) memerintahkannya, dan (tidak pula) dikerjakan oleh sahabat sahabatnya. Berarti jelaslah bahwasanya hal ini bukan dari agama, tetapi ia adalah merupakan suatu perbuatan yang diada adakan, perbuatan yang menyerupai hari hari besar ahli kitab, Yahudi dan Nasrani.

Hal ini jelas bagi mereka yang mau berfikir, berkemauan mendapatkan yang haq, dan mempunyai keobyektifan dalam membahas; bahwa upacara peringatan maulid Nabi bukan dari ajaran agama Islam, melainkan merupakan bid’ah bid’ah yang diada adakan, dimana Allah memerintahkan RasulNya agar meninggalkanya dan memperingatkan agar waspada terhadapnya, tak layak bagi orang yang berakal tertipu karena perbuatan perbuatan tersebut banyak dikerjakan oleh orang banyak diseluruh jagat raya, sebab kebenaran (Al Haq) tidak bisa dilihat dari banyaknya pelaku (yang mengerjakannya), tetapi diketahui atas dasar dalil dalil syara’. Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman tentang orang orang Yahudi dan Nasrani:
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata : sekali kali tak (seorangpun) akan masuk sorga, kecuali orang orang yang beragama Yahudi dan Nasrani. Demikian itu (hanya) angan angan mereka yang kosong belaka ; katakanlah : tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang orang yang benar” (QS. Al Baqarah, 111).
komentar | | Read More...

Waspada Terhadap Bid'ah

Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz 
BAB PERTAMA
HUKUM UPACARA PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SHALALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM

Segala puji bagi Allah, semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya, serta orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah. Telah berulang kali muncul pertanyaan tentang hukum upacara (ceremoni ) peringatan maulid Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam; mengadakan ibadah tertentu pada malam itu, mengucapkan salam atas beliau dan berbagai macam perbuatan lainnya.

Jawabnya : harus dikatakan, bahwa tidak boleh mengadakan kumpul kumpul / pesta pesta pada malam kelahiran Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan juga malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan baru (bid’ah ) dalam agama, selain Rasulullah belum pernah mengerjakanya, begitu pula  Khulafaaurrasyidin, para sahabat lain dan para Tabi’in yang hidup pada kurun paling baik, mereka adalah kalangan orang orang yang lebih mengerti terhadap sunnah, lebih anyak mencintai Rasulullah dari pada generasi setelahnya, dan benar benar menjalankan syariatnya.

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Barang siapa mengada adakan (sesuatu hal baru) dalam urusan (agama) kami yang sebelumnya ) tidak pernah ada, maka akan ditolak”.

Dalam hadits lain beliau bersabda :
“Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al qur’an) dan sunna Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru (dalam agama), karena setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

Maka dalam dua hadits ini kita dapatkan suatu peringatan keras, yaitu agar kita senantiasa waspada, jangan sampai mengadakan perbuatan bid’ah apapun, begitu pula mengerjakannya. Firman Allah ta’aala dalam kitab-Nya : 
 “Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ia, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras siksaan- Nya” (QS. Al Hasyr : 7)


“Karena itu hendaklah orang orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau adzab yang pedih” (QS. An Nur, 63).



“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap (rahmat ) Allah, dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab,21).



“Orang orang terdahulu lagi pertama kali (masuk Islam ) diantara orang orang Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan itu, Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepadaNya, serta Ia sediakan bagi mereka syurga syurga yang disana mengalir beberapa sungai, mereka kekal didalamnya, itulah kemenangan yang besar” ( QS, At taubah, 100 ).



“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridlai Islam itu sebagai agama bagimu” ( QS. Al Maidah, 3 ).



Dan masih banyak lagi ayat ayat yang menerangkan kesempurnaan Islam dan melarang melakukan bid’ah karena mengada-adakan sesuatu hal baru dalam agama, seperti peringatan peringatan ulang tahun, berarti menunjukkan bahwasanya Allah belum menyempurnakan agamaNya buat umat ini, berarti juga Rasulullah itu belum menyampaikan apa apa yang wajib dikerjakan umatnya, sehingga datang orang orang yang kemudian mengada adakan sesuatu hal baru yang tidak diperkenankan oleh Allah, dengan anggapan bahwa cara tersebut merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa cara tersebut terdapat bahaya yang besar, lantaran menentang Allah ta’aala, begitu pula ( lantaran ) menentang Rasulullah. Karena sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya, dan telah mencukupkan ni’mat-Nya untuk mereka.



Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalahnya secara keseluruhan, tidaklah beliau meninggalkan suatu jalan menuju syurga, serta menjauhi diri dari neraka, kecuali telah diterangkan oleh beliau kepada seluruh ummatnya sejelas jelasnya. Sebagaimana telah disabdakan dalam haditsnya, dari Ibnu Umar rodhialloh ‘anhu bahwa beliau bersabda:



“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada mereka, dan memperingatkan mereka dari kejahatan ( hal hal tidak baik ) yang telah ditunjukkan kepada mereka” (HR. Muslim).



Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terbaik diantara Nabi Nabi lain, beliau merupakan penutup bagi mereka ; seorang Nabi paling lengkap dalam menyampaikan da’wah dan nasehatnya diantara mereka itu semua.



Jika seandainya upacara peringatan maulid Nabi itu betul betul datang dari agama yang diridloi Allah, niscaya Rasulullah menerangkan kepada umatnya, atau beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak, dikerjakan oleh para sahabat. Maka jika semua itu belum pernah terjadi, jelaslah bahwa hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali, dan merupakan seuatu hal yang diada adakan ( bid’ah ), dimana Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya agar supaya dijauhi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dua hadits diatas, dan masih banyak hadits hadits lain yang senada dengan hadits tersebut, seperti sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum’atnya:



“Adapun sesudahnya, sesungguhnya sebaik baik perkataan ialah kitab Allah (Al Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan ( dalam agama) ialah yang diada adakan (bid’ah), sedang tiap tiap bid’ah itu kesesatan” (HR. Muslim).



Masih banyak lagi ayat ayat Al Qur’an serta hadits hadits yang menjelaskan masalah ini, berdasarkan dalil dalil inilah para ulama bersepakat untuk mengingkari upacara peringatan maulid Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan memperingatkan agar waspada terhadapnya. Tetapi orang orang yang datang kemudian menyalahinya, yaitu dengan membolehkan hal itu semua selama di dalam acara itu tidak terdapat kemungkaran seperti berlebih lebihan dalam memuji Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, bercampurnya laki laki dan perempuan (yang bukan mahram), pemakaian alat alat musik dan lain sebagainya dari hal hal yang menyalahi syariat, mereka beranggapan bahwa ini semua termasuk bid’ah hasanah padahal kaidah syariat mengatakan bahwa segala sesutu yang diperselisihkan oleh manusia hendaknya dikembalikan kepada Al Qur’an dan sunnah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman :



“Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri (pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( Al Qur’an ) dan Rasul ( Al Hadits), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama ( bagimu ) dan lebih baik akibatnya” ( QS. An nisa’, 59 ).



“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah ) kepada Allah ( yang mempunyai sifat sifat demikian ), itulah Tuhanku, Kepada -Nya- lah aku bertawakkal dan kepada-Nya- lah aku kembali”  (QS. Asy syuro, 10 ).



Ternyata setelah masalah ini (hukum upacara maulid Nabi) kita kembalikan kepada kitab Allah (Al Qur’an), kita dapatkan suatu perintah yang menganjurkan kita agar mengikuti apa apa yang dibawa oleh Rasulullah, menjauhi apa apa yang dilarang oleh beliau, dan (Al Qur’an) member penjelasan pula kepada kita bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’aala telah menyempurnakan agama umat ini.



Dengan demikian upacara peringatan maulid Nabi ini tidak sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka ia bukan dari ajaran agama yang telah disempurnakan oleh Allah subhaanahu wa ta’aala kepada kita, dan diperintahkan agar mengikuti sunnah Rasul, ternyata tidak terdapat keterangan bahwa beliau telah menjalankannya, (tidak) memerintahkannya, dan (tidak pula) dikerjakan oleh sahabat sahabatnya. Berarti jelaslah bahwasanya hal ini bukan dari agama, tetapi ia adalah merupakan suatu perbuatan yang diada adakan, perbuatan yang menyerupai hari hari besar ahli kitab, Yahudi dan Nasrani.



Hal ini jelas bagi mereka yang mau berfikir, berkemauan mendapatkan yang haq, dan mempunyai keobyektifan dalam membahas; bahwa upacara peringatan maulid Nabi bukan dari ajaran agama Islam, melainkan merupakan bid’ah bid’ah yang diada adakan, dimana Allah memerintahkan RasulNya agar meninggalkanya dan memperingatkan agar waspada terhadapnya, tak layak bagi orang yang berakal tertipu karena perbuatan perbuatan tersebut banyak dikerjakan oleh orang banyak diseluruh jagat raya, sebab kebenaran (Al Haq) tidak bisa dilihat dari banyaknya pelaku (yang mengerjakannya), tetapi diketahui atas dasar dalil dalil syara’. Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman tentang orang orang Yahudi dan Nasrani:



“Dan mereka ( Yahudi dan Nasrani ) berkata : sekali kali tak (seorangpun ) akan masuk sorga, kecuali orang orang yang beragama Yahudi dan Nasrani. Demikian itu (hanya) angan angan mereka yang kosong belaka ; katakanlah : tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang orang yang benar” ( QS. Al Baqarah, 111 ).





 







komentar | | Read More...

Catatan-Catatan Penting Seputar Yasinan *

Penulis : Unknown on Minggu, 25 November 2012 | 10.28

Minggu, 25 November 2012

Pak Maman (bukan nama sebenarnya) seorang yang hafal Surat Yasin di luar kepala, padahal dia buta huruf dan tidak bisa membaca al-Qur'an. Setelah diusut, dia adalah seorang 'aktifis Yasinan' yang diadakan dikampungnya setiap malam Jum'at dan pada acara-acara lainnya.
Pengalaman mirip juga dialami oleh Hendra (bukan nama sebenarnya). Pemuda yang beridentitas "santri pesantren" tersebut hafal Surat Yasin di luar kepala karena nyantri selama lima tahun di salah satu pondok pesantren, padahal surat lainnya belum dia hafal.
Dua fakta di atas merupakan contoh sekaligus bukti bahwa Yasinan adalah suatu tradisi yang mengakar di masyarakat kita. Nah, timbul sebuah pertanyaan: apakah tradisi tersebut ada tuntunannya dalam Islam?! Ataukah itu perkara baru dalam agama kita yang mulia?!!! Inilah yang akan didudukan permasalahannya pada lembaran catatatn singkat ini. Mudah-mudah kita termasuk orang yang menerima  kebenaran.

LEMAHNYA SEMUA HADITS TENTANG YASIN
Kita sangat gembira dengan banyaknya orang yang hafal Surat Yasin, tetapi kita yakin tentunya ada beberapa faktor yang mendorong kaum muslimin menghafal surat tersebut. Setelah diperiksa, ternyata memang ada beberapa faktor pendorongnya, yaitu beberapa hadits yang menerangkan keutamaan dan ganjaran bagi orang yang membaca Surat Yasin. Akan tetapi, semua hadits yang menerangkan Surat Yasin lemah.

Kami akan menyebutkan dan menjelaskan sebagian hadits tersebut supaya kaum muslimin mengetahui bahwa hadits-hadits tersebut tidak bisa dipakai sebagai hujjah meskipun untuk fadho'il a'mal (keutamaan amal).

1. Surat Yasin, Jantungnya al-Qur'an
"Sesungguhnya segala sesuatu memiliki jantung, dan jantungya al-Qur'an adalah Surat Yasin, barang siapa membacanya maka dia seakan membaca al-Qur'an sepuluhh kali."

MAUDHU' (PALSU). Diriwayatkan at-Tirmidzi: 4/46, ad-Darimi 2/456 dari Humaid bin Abdurrohman dari Hasan bin Sholih dari Harun Abu Muhammad dari Muqotil binn Hayyan dari Qotadah dari Anas secara marfu'. Sanad ini lemah sekali, bahkan Maudhu' karena Harun Abu Muhammad adalah pendusta. Dalam al-Ilal: 2/55-56 dinukilkan ucapan Abu Hatim bahwa hadits ini batil.(lihat Silsilh Ahadits adh-Dhoifah: 169)

2. Yasinan Malam Jum'at
"Barang siapa membaca Surat Yasin pada malam Jum'at akan diampuni."

LEMAH SEKALI. Dikeluarkan al-Ashfahani dalam at-Targhib wat-Tarhib: hlm. 244 dari jalur Zaid bin Huraisy dari Aghlab bin Tamim dari Ayyub dan Yunus dari Hasan dari Abu Huroiroh. Sanad ini lemah sekali. Kecacatannya pada Aghlb bin Tamim. Ibnu Hibban berkata: "Mungkar haditsnya, dia meriwayatkan dari orang-orang terpercaya hadits-hadits yang bukan dari mereka, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah karena banyakanya kesalahan dia." (lihat Silsilh Ahadits adh-Dhoifah: 5111)

 3. Baca Surat Yasin di Kuburan
"Barang siapa berziarah ke kuburan ke dua orang tuanya setiap Jum'at lalu membacakan di sisinya Surat Yasin, niscaya akan diampuni sebanyak jumlah ayat dan huruf yang dia baca."

MAUDHU'. Diriwayatkan Ibnu 'Adi: 1/286, Abu Nu'aim dalam Akhbar Ashbahan: 2/344-345 dari jalur Abu Mas'ud Yazid bin Khalid. Menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaim ath-Thaifi dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah dari Abu Bakar secara marfu'. Sanad ini masudhu' karena Amr bin Ziyad pemalsu hadits. Ibnu 'adi berkata: "Batil". Haidts ini dicantumkan Ibnu Jauzi dalam al-Maudhu'at: 3/239.

Itulah tiga contoh hadits palsu tentang masalah ini. Sebetulnya masih banyak 'kawannya' yang semuanya tidak shohih dari Nabi SAW.

BEBERAPA CATATAN TENTANG YASINAN
Beirkut ini beberapa catatan berharga seputar masalah Yasinan dan hadits-hadits yang berkaitan dengan Surat Yasin:
Catatan Pertama: Semua Haditsnya Tidak Shohih
Semua hadits tentang keutaman Surat Yasin (1) adalah lemah sekali dan  palsi, tidak dapat dijadikan sebagai landasan, menurut penelitian ilmu hadits. Dan kalau telah terbukti bahwa haditsnya tidak shohih maka kita dilarang untuk menyandarkannya kepada Nabi SAW karena hal itu merupakan kedustaan atas nama beliau yang merupakan dosa besar (2). Demikian juga kita dilarang untuk mengamalkan isinya karena ibadah itu harus dibangun di atas dalil yang shohih.
Imam al-Harowi meriwayatkan bahwasanya Abdulloh bin Mubarok pernah tersesat dakan safar. Sebelumnya telah sampai kabar kepadanya: "Barang siapa yang terjepit dalam kesusahan kemudian berseru: 'Wahai hamba Alloh, tolonglah aku!' maka dia akan ditolong." (Abdulloh bin Mubarok) berkata: "Maka aku mencari hadits ini untuk melihat sanadnya." Al-Harowi berkomentar: "Abdullon bin Mubarok tidak memperbolehkan dirinya untuk berdo'a dengan suatu do'a yang tidak dia ketahui sanadnya."

Setelah membawakan ucapan di atas, Syaikh al-Albani berkomentar: "Demikianlah hendaknya ittiba' (mengikuti Nabi)

Dan apabila memang dirimu pernah berpedoman pada hadits-hadits yang lemah dan palsu tersebut dan engkau pernah menjadi pembelanya, lalu Alloh memberikan petunjuk kepadamu, maka janganlah engaku segan segan untuk memeluk kebenaran dan meninggalkan keyakinanmu yang dulu sekalipun telah mengakar dalam hatimu.
Penulis pernah takjub dengan kisah Ibnul Jauzi tatkala beliau  mengamalkan sebagian hadits tantang dzikir setelah sholat. Beliau berkata: "Dahulu saya telah mendengar hadits ini sejak kecil. Saya pun mengamalkannya kurang lebih tiga puluh tahun lamanya karena saya bersangka baik kepada rowinya. Namun tatkala saya mengetahui bahwa haditsnya adlah maudhu' (palsu) maka saya punn meninggalkannya. Ada seorang pernah berkata kepadaku: "Bukankah itu mengamalkan suatu kebaikan?!" Saya menjawab: "Mengamalkan kebaikan itu harus disyari'atkan. Kalau kita tahu bahwa itu adalah dusta maka berarti keluar dari perkara yang disyariatkan." (Al-Maudhu'at: 1/245)

Catatan Kedua: Gambaran Acara Yasinan
Acara yasinan adalah acara yang telah mendarah daging dikalangan kaum muslimin di Indonesia. Acara ini biasanya diadakan setiap malam Jum'at atau malam-malam lainnya di masjid atau diadakan bergilir dari rumah ke rumah. Disebut Yasinan karena yang dibaca pada acara hari ini adalah Surat Yasin secara bersama-sama sesudah membaca Surat al-Fatihah secara bersama-sama pula, kemudia diiringi dengan do'a Surat Yasin, takhtim dan tahlil. Kemudian acara ditutup dengan do'a takhtim dan tahlil. Semua itu dilakukan secara bersama-sama dengan suara keras. (3)

Yasinan di berbagai daerah kadang disendirikan pada malam Jum'at dan terkadang dijadikan satu acara dengan 'temannya' yang bernama Tahlil-an. Kegiatan ini dimulai dengan bacaan pujian, Surat Yasin, atau surat-surat lain, dzikir-dizikir, serta do'a-do'a yng ditujukan untuk si mayit di alam kubur, hingga diakhiri dengan hidangan aneka makanan yang lebih dari ala kadarnya, bahkan biasanya ada juga makanan buah tangan (berkat) yang dibawa pulang.

Catatan Ketiga: Ritual Yasinan Bid'ah Tetapi Dianggap Sunnah
Hadits no. 2 di atas sering dijadikan pedoman sebagian kaum muslimn yang mengadakan acara Yasinan setiap malam Ju,'at padahal hadits tersebut tidak shohih. Dan anggaplah bahwa haditsnya shohih sekalipu, cara seperti itu tidak pernah dicontohkan Nabi SAW dan para sahabatnya. Sandainya hal itu baik, tentu akan dianjurkan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya. Ingat agama Islam telah sempurna dan ibadah itu harus berdasarkan dalil yang shohih.

Namun, yang harus dipahami dan diperhatikan, ini bukan merupakan pelecehan kepada salah satu Surat al-Qur'an. Yang diingkari adalah tatacara ibadah yang tidak ada tuntunannya tersebut. Mirip dengan masalah ritual ini adalah fatwa al-Hafizh as-Sakhowi r (murid al-Hafizh Ibnu Hazar r) ketika beliau ditanya tentang kebiasaan manusia usai sholat bahwa mereka membaca al-fatihah dan menghadiahkannya kepada kaum muslimin yang hidup dan yang mati. maka beliau menjawab: "Cara seperti itu tidak ada contohnya, bahkan ini termasuk kebid'ahan dalam agama." (Al-Ajwibah al-Mardhiyyah: 2/721)

Catatan Kelima: Jangan Salah Paham
Hal yang perlu diingat dan diperhatikan dari tulisan ini adalah bahwa dengan membahas masalah ini bukan berarti kami melarang membaca Surat Yasin. Kami ingin menjelaskan kesalahan orang yang menyandarkan dalil keutamaannya kepada Nabi SAW. Karena berdusta atas Nabi SAW diharamkan dan diancam masuk neraka. Selain itu kita wajib melihat apakah ada contoh dari nabi SAW berupa riwayat yang menerangkan bahwa Nabi SAW. membaca Surat Yasin setiap malam Jum'at, setiap mulai atau menutup majlis ta'lim, ketika orang mati, dan lain-lain.

Mudah-mudahan, penjelasan dan keterangan ini tidk mematahkan semangat tetapi malah sebagai dorongan untuk membaca dan menghafal seluruh isi al-Qur'an dan berupaya untuk mengamalkannya.

Maka janganlah engkau tertipu dengan ucapan ahli bid'ah kepada Ahli Sunnah tatkala Ahli Sunnah mengingkari ritual seperti ini dengan ucapan mereka: "Mereka adalah Wahhabi!! Melarang manusia dari dzikir dan membaca al-Qur'an! Tidak suka bacaan al-Qur'an dan sholawat kepada Nabi!!"

Jadikan atsar berikut ini sebagai pelajaran. Sa'ad bin Musayyib r melihat seorang laki-laki menunaikan sholat fajar lebih dari dua roka'at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya, Sa'id bin Musayyin pun melarangnya. Orang itu berkata: "Wahai Abu Muhammad, apakah Alloh menyiksaku dengan sebab Sholat?" Beliau menjawab: "Tidak, tetapi Alloh akan menyiksamu karena menyelisihi as-Sunnah." (*)

Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani r mengomentari atsar ini: "Ini adalah jawban Sa'id bin Musayyib yang sangat Indah dan merupakan senjata pamungkas terhadap pada ahlu bid'ah dengan alasan dzikir dan sholat kemudian membantai Ahlus Sunnah dan menuduh mereka (Ahlus Sunnah) mengingkari dzikir dan sholat! Padahal sebenarnnya yang mereka ingkari adalah penyelewengan ahlu bid'ah dari tuntunan Rosul SAW dalam dzikir, sholat dan lain-lain.

Catatan Keenam: Menenpis Beberapa Syubhat
Ada beberapa alasan yang dijadikan landasan sebagian kalangan yang biasa menyeleggarakan acara tersebut, seperti  ucapan mereka: "Ritual itu sudah merupakan bagian mayoritas masyarakat yang tidak bisa ditinggalkan", "Hadits-hadits keutamaan Ysin", dan sebagainya.
Kami tidak ingin membahasnya satu-persatu karena kami kira keterangan diatas sudah memuat jawabannya. Hanya , ada dua syubhat lainnya yang kami rasa penting untuk menjawabnya:

Syubhat Pertama: Yasinan masalah Khilafiyyah
Syubhat ini mereka lontarkan seakan-akan Yasinan adalah masalah ijtihadiyah yang boleh berbeda pendapat tentangnya, sehingga tidak boleh diingkari. (**)
Jawaban:
1. Kita bertanya-tanya: Apakah setiap perbedaan tidak boleh diingkari? Jawabannya tidak, sebagaimana dahulu dikatakan:
Tidak semua perselisihan itu dianggap
Kecuali perselisihan  yang memang memiliki dalil yang kuat

2. Kewajiban setiap musim ketika menjumpai perbedaan pendapat adalah mengembalikannya kepada Alloh dan Rosul-Nya, sebagaimana firman Alloh:
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul(Nya), dan ulil mri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (al-Qur'an) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-Nisa [4]: 59)

3. Anggapan mereka bahwa Yasinan adalah masalah khilafiyyah adalah tidak benar karena perbedaan pendapat yang terjadi dikalangan para ulama salaf adalah tentang masalah "menghadiahkan pahala amalan kepada orang mati" bukan masalah Yasinan. Adapun Yasinan adalah pengkhususan bacaan-bacaan tertentu sebagaimana yang mereka lakukan, dan ini termasuk bid'ah idhofiyyah karena tidak pernah dilakukan Nabi SAW.dan para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Kalaupun seandainya kita mengatakan pahala bacaan al-Qur'an yang dihadiahkan akan sampai kepada orang mati maka ini pun sama sekali bukan dalil untuk melegalkan acara Yasinan.

4. Kemudian, mengapa mereka mengikuti sesuatu yang tidak ada landasannya, sedangkan sunnah-sunnahh lainnya yang jelas disyari'atkan mereka lalaikan.

Syubhat Kedua: Jangan sibuk dengan masalah parsial.
Sebagian da'i yang 'hikmah' dan ustadz gaul yang 'tidak kolot' dengan 'kearifan' mereka mencoba untuk menempuh jalan pintas. Kata mereka: "Mengapa sih kita sibuk dengan masalah-masalah kulit!! Lihatlah, banyak saudara-saudara kita yang teraniaya!! Gereja-gereja timur saling bantu-membantu dengan gereja barat. Lantas, masihkah kita menyibukan diri dengan masalah-masalah kulit seperti ini?!! Semuanya baik, yang yasinan atau yang  tidak yasinan baik. Yang tidak baik adalah tidak ngaji al-Qur'an!!"

Jawaban:
1. Ucapan ini sangat berbahaya karena akan berdampak meremehkan hukum-hukum Islam dengan alasan bahwa ini adalah hanya masalah kulit dan sebagainya. Lalu tidak ada pengingkaran dalam hatinya kepada seorang yang melanggarnya padahal mengingkari kemungkaran merupakan kewajiban setiap muslim. Apakah kita ingin seperti ahli kitab yang dilaknat Alloh kerena mereka tidak mengingkari kemungkaran?!! Bukankah kewajiban  bagi orang-orang yang mengerti untuk tegas mengingkari kemungkaran?!! Lantas mengapa harus ditutupi?!

2. Pembagian agama  Islam kepada isi dan kulit merupakan pembagian yang bid'ah. Dan kalaulah pembagian ini dianggap benar maka hal itu bukan berati bahwa kita harus meremehkan kulit, karena kulit tidaklah diciptakan sia-sia tetapi untuk menjaga isi buah. Hal ini mendorong kita agar tidak meremehkan masalah kulit dalam agama. Alangkah indahnya ucapan al-Izz bin Abdus Salam: "Seandainya dikatakan kepada seorang diantara mereka: "Sesungguhnya ucapan gurumu itu cuma kulit, niscaya dia akan sangat mengingkarinya, lantas bagaimana dia menganggap kulit terhadap syari'at Islam!! Padahal syari'at diambil dari al-Qur'an dan sunnah. Maka hendaknya orang jahil ini mendapatkan hukuman yang pantas karena dosanya tersebut." (***)

3. Adapun masalah kehinaan kaum muslimin dan gencarnya makar musuh-musuh Islam, hal ini tidak boleh  menjadikan terhambat (tertunda)nya penerapan sunnah Nabi SAW. Bukankah para sahabat dan salaf dahulu juga menghadapi perlawanan hebat dari musuh-musuh Islam? Namun, apakah hal itu menjadikan merekah meremehkan dan meninggalkan penerapan sunnah Nabi SAW dan mengingkari bid'ah?!! Sama sekali tidak.  (****)

Catatan Ketujuh: Beberapa Bid'ah Berkaitan Surat Yasin
Ada beberapa kesalahan dan kebid'ahan yang biasa dilakukan oleh sebagian manusia berkaitan dengan Surat Yasin, diantaranya:
a. Membaca Surat Yasin ketika memandikan mayit
b. Membaca Surat Yasin kepada orang yang akan meninggal dunia
c. Membaca Surat Yasin di kuburan
d. Menjadikan Surat Yasin sebagai jimat.
e. Membaca Surat Yasin sebanyak empat puluh kali.

Catatan kedelapan: Marilah Banyak Membaca dan Mempelajari al-Qur'an
Sekali lagi, bukanlah tujuan tulisan ini untuk menggembosi semangat kaum muslimin untuk membaca al-Qur'an. Sekali-kali tidak, bahkan kami sangat menghimbau diri kami pribadi dan kepada seluruh kaum  muslimin di mana pun berada untuk banyak membaca, mempelajari, merenungi dan mengamalkan isi al-Qur'an karena di dalamnya terdapat mutiara-mutiara ilmu berharga yang akan menambah keimanan kita dan ketenteraman hati kita. Marilah kita ingat tujuan diturunkannya kitab suci al-Qur'an kepada kita. Alloh berfirman:
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orng yang mempunyai pikiran. (QS. Ahod [38]: 29).
Iniliah tujuan diturunkannya al-Qur'an. Jadi, ia bukan untuk  menjadi jimat, pajangan, atau ritual-ritual rutinitas yang tidak diiizinkan dakan syari;at. Maka sebagai ganti dari acara Yasnian kita bisa mengubahnya menjadi pengajian tafsir al-Qur'an, pengajian agama lainnya, atau mengkaji bersama membaca al-Qur'an disertai artinya. Sungguh hal-hal ini lebih baik dan lebih berbarokah. (*****)
Akhirnya kita berdoa kepada Alloh agar menjadikan al-Qur'an penyejuk hati kita dan petunjuk hidup kita serta lentera kita. []

Sumber: Majalah Al Furqon Edisi 12 th. 8 1430/2009
* Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi



 
komentar (3) | | Read More...

Rodja TV

Radio Sunnah

 
Blog Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2014. Abu Fakhiroh . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger